Ukuran : 17 x 24 cm
Harga : –
ISBN : (Belum Tersedia)
Pemesanan : WA +62 812-3250-3457
Political Economy of Accounting (PEA) hadir sebagai kerangka untuk membaca akuntansi secara lebih kritis, mengungkap bahwa setiap standar, kebijakan dan metode akuntansi selalu dipengaruhi oleh kepentingan tertentu. Namun pembacaan kritis tersebut masih sangat berfokus pada dimensi material dan struktural, sehingga belum menyentuh sisi terdalam dari manusia yg menjadi pelaku utama proses akuntansi.
Metafora “bunyi seruling bukan milik seruling” mengajarkan bahwa setiap instrumen hanyalah; media ruh yang menggerakkan jauh lebih penting daripada bentuk luarnya. Ketika metafora ini dibawa untuk membaca akuntansi, kita diingatkan bahwa akuntansi bukanlah tujuan, melainkan alat. Bunyi yakni dampak moral, sosial, dan kemanusiaan tidak ditentukan oleh sistem akuntansi itu sendiri, melainkan oleh kesadaran dan nilai para individu yang menggunakannya.
Latar belakang penulisan buku ini berangkat dari kegelisahan atas dominasi pandagan positivistik dalam akuntansi yang sering menempatkan angka sebagai realitas final, sementara dimensi keadilan, integritas, dan kemanusiaan terpinggirkan. Akuntansi diperlakukan seolah-olah netral, padahal ia berperan besar dalam membentuk perilaku organisasi, mengarahkan keputusan publik, bahkan mempengaruhi distribusi sumber daya. Dalam konteks inilah pendekatan PEA penting untuk dihadirkan, namun perlu disempurkan dengan perspektif ruhanlah agar akuntansi kembali pada tujuan awalnya; menjaga amanah, menegakkan kejujuran, dan memelihara keseimbangan.
Buku ini ditulis untuk menjawab kebutuhan tersebut. Penulis berupaya merentangkan pemahaman bahwa akuntansi tidak hanya beroperasi dalam ruang politik-ekonomi, tetapi juga dalam ruang spiritual manusia.
Dengan menempatkan sufisme sebagai landasan filosofis, penulis berharap pembaca dapat memahami bahwa praktik akuntansi yang baik bukan hanya lahir dari aturan yang benar, tetapi juga dari hati yang jernih. Seruling tidak akan menghasilkan nada indah tanpa nafas yang bersih; demikian pula akuntansi tidak akan menghasilkan keadilan tanpa kesadaran moral para pelakunya.